Minggu, 07 Desember 2008
Indahnya Cinta dan Rahasia Ilahi
Duapuluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1986 Penulis berhenti sekolah dasar karena tidak ada biaya. Tahun 1987 merantau ke Jakarta dengan terlebih dahulu menjadi kuli panggul singkong untuk ongkos perjalanannya. Lalu berjalan kaki sejauh 25 km di jalan setapak yang curam untuk mencapai jalan aspal karena tidak cukup uang untuk naik ojek. Sampai di kota metropolitan, penulis menjadi kernet jahit. Setiap malam tidur beralaskan bahan levis dan terkadang tidur di atas mesin obras. Ruangannya sangat sempit, bau, panas dan pengap. Tiga bulan kemudian terdampar di sebuah Panti Asuhan selama enam tahun. Subhanallah... betapa dahsyatnya rahasia-Mu.
Ujian semakin terasa berat ketika tahun 1995. Saat itu ayah penulis sakit reumatik kronis dan TBC berat. Sungguh penulis sangat sedih karena tidak mampu membiayainya di Rumah Sakit. Tiga tahun kemudian ayah meninggal dunia dalam usia sangat muda (43 tahun). Ayah wafat meninggalkan empat anak yang masih bersekolah. Akhirnya semua tanggung jawab ayah berpindah ke pundak penulis sebagai anak laki-laki tertua. Subhanallah... Cobaan dan ujian ini kadang terasa sangat berat. Pada saat itu penulis belum tahu bahwa perjalanan takdir itu akan menjadi pintu karunia terbesar dalam hidup ini. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Hadid (57):22)
Perjalanan takdir hidup ini terus melaju menuju terminal- nya. Walau terasa sangat berat dengan kerikil dan duri kehidupan yang berliku. Namun tiada sungai yang tidak berhulu. Penulis sangat yakin dengan janji Allah “Bahwa setelah kesusahan pasti ada kemudahan dan bersama kesusahan pasti disertai kemudahan yang lain”. (QS.Al-Insyiroh (94):5-8). Janji Allah ini benar-benar telah penulis temukan dan rasakan dalam banyak kenikmatan hidup. Salah satunya adalah kemudahan hadirnya buku ini kehadapan pembaca sekalian.
Sesungguhnya, inspirasi buku ini berawal dari kisah ajaib perjalanan takdir penulis untuk bisa belajar di Annajah (dulu Darunnajah) Jakarta. Walau anak kampung yang sangat udik tetapi atas kerja keras, bimbingan guru, do’a dan anugerah-Nya penulis selalu berada di ranking tiga besar. Hidup di panti asuhan tidak menjadi kendala untuk bangkit dan menjemput prestasi. Sehingga berkat prestasi dan do’a orang tua pada tahun 1993 penulis dapat meraih tiket beasiswa ke Negara Kuwait. Sungguh karunia Allah SWT yang sangat besar. Dan setelah penulis berada di Kuwait, nikmat demi nikmat terus mengalir bak air terjun yang terus mengisi garis takdir kehidupan penulis.
Diusia 19 tahun penulis dianugerahi kesempatan study banding ke negara-negara ASEAN. Tujuan utamanya adalah untuk mengadakan seminar, kemping dan bertemu dengan tokoh, ulama, dan orang-orang sholeh. Di negeri jiran ini penulis bertemu dengan Abu Urwah penulis buku terkemuka, pimpinan Jama’ah Islah Malaysia (JIM). Ia adalah tokoh oposisi dan reformasi paling vokal menyuarakan keadilan dan kebenaran. Ia sudah berkali-kali dijebloskan ke penjara karena dianggap subersive namun tetap sabar dan istikomah dalam membela keadilan dan hak-hak demokrasi rakyat malaysia. Berkat kegigihannya, saat ini Abu Urwah bersama putri Dr. Anwar Ibrahim dipilih rakyatnya untuk berjuang di kursi Parlemen Malaysia. Penulis sangat senang dapat bertemu dan berdiskusi dengannya. Penulis berharap dunia ini memiliki banyak tokoh reformis yang gigih membela keadilan seperti beliau.
Di Kuala Lumpur Penulis juga bertemu dengan direksi Bank Islam Malaysia (BIM). Ia mengisahkan bahwa berdirinya BIM ini penuh dengan perjuangan dan tantangan yang sangat besar, baik dari kalangan Muslim atau non Muslim, baik instansi pemerintahan ataupun non pemerintahan. Bank dengan sistem bagi hasil ini semula sangat diragukan banyak orang akan kemampuannya. Namun, waktu membuktikan, kalau bank ini kini menjadi bank tercepat perkembangannya dan terbaik dalam berbagi keuntungannya. Perjalanan tersebut juga menambah keyakinan Penulis, bahwa siapapun yang komitmen dengan syariah, Allah akan memberikan pertolongan dan keuntungan, baik di dunia serta akhiratnya.
Inspirasi buku ini juga banyak dipengaruhi oleh pertemuan dan persahabatan penulis dengan pelajar internasional dan guru serta ulama di Qurtubah Kuwait. Penulis masih teringat dan terbayang dengan wajah ceria teman-teman yang pernah satu kamar di Asrama. Mereka adalah Islam Karimove dari Rusia, Umar Bigovice dari Bosnia, Abdul Azis Yonoo dari Thailand, Khairuddin dari Pilipina, Fhation dari Al-Bania, Muchtar dari Maurusius, Mohammad Dzorif dari Singapura, Nirsyad dari Uzbekistan, Abdul Basyir dari Negeria, dll. Mereka adalah sahabat penulis yang cerdas, santun, religious dan peduli. Mereka telah banyak memberikan kontribusi positif kepada penulis. Semoga Allah menjadikan mereka pemimpin yang sukses dan mampu mengantarkan negaranya menuju kehidupan yang lebih adil, aman, sejahtera dan diridhoi Allah SWT.
Sungguh beruntung mantan tukang kuli panggul singkong ini, karena bisa bertemu dan bersahabat dengan kontributor ummat di belahan dunia. Nikmat lain yang selalu berkesan dalam persahabatan ini adalah ketika penulis dipertemukan Allah dengan ulama dan panglima mujahid Afghanistan. Ia bernama syeikh Abdurrozak. Sosok lelaki yang tangguh dan sabar dalam mengusir dan mengahancurkan penjajah Uni Soviet selama 9 tahun. Ia seorang ulama alumni sebuah Universitas terkenal di Mesir. Ia hafal 30 juz Al-Qur’an dengan baik. Padahal, jalan kehidupannya dulu begitu berliku! Dimasa muda, ia ketua geng Mafia. Namun, kemudian ia disadarkan oleh seorang hafizah mahasiswi Al-Azhar yang akan diperkosanya semasa ia jahil.
Ajaibnya, 9 tahun kemudian Allah mentakdirkan wanita yang akan ia perkosa itu menjadi istri yang kini sangat dicintainya. Padahal, prosesnya bukan ia yang mencari calon itu, tapi orang lain. Kisah ini, menjadikan Penulis bertambah yakin akan nyatanya hidayah dan pertolongan Allah SWT. Pertolongan Allah akan diberikan kepada siapa saja dan di mana saja. Karena Allah benar-benar sangat berkuasa menganugerahkan karunia apa pun sesuai dengan kehendak-Nya.
Maha suci Allah yang Maha Kaya Raya dan Maha Kuasa.Setelah enam tahun penulis menikmati beasiswa di negara metro dollar Kuwait, tahun 1998 penulis mendapat dana beasiswa belajar di FISIP Hubungan Internasional di Jakarta. Lalu tahun 2004 menjadi Direktur Utama di sebuah perusahaan swasta nasional.
Dua tahun kemudian penulis bertemu dengan mantan pemulung yang mampu menjadi miliyarder dalam tiga tahun. Ia akhirnya menjadi sahabat karib dan menjadi salah satu inspirator terbesar untuk menulis buku yang ada dalam genggaman pembaca sekalian. Tentunya, kisah dan kiat sukses mantan pemulung dalam buku ini akan menjadi energi positif bagi kita untuk bangkit, bergerak, dan beramal menjadi manusia yang lebih optimis, bermanfaat dan lebih bermartabat.
Subhanallah... benar-benar nikmat yang sangat besar. Sungguh penulis sangat bersyukur dengan anugerah takdir ini. Walau kadang di hati kecil ini masih ada pertanyaan “Mengapa mesti penulis yang mendapatkan nikmat luar biasa ini?”. Seorang “Wong nDeso”, anak petani miskin dari Kampung mariuk, Jampang, Sukabumi yang masih jauh dari peradaban modern.
Subhaanallah... wal-hamdulillah... walaa ilaha illallah wallahu akbar... Atas karunia-Nya ini penulis selalu meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil. Walau Penulis sadar bahwa takdir kesuksesan dan kebahagiaan tidak akan dapat diraih dengan gratis. Tetapi semuanya harus dibayar dengan tekad yang bulat, niat yang ikhlas, usaha yang maksimal dan keberanian mengambil resiko. Hal ini senada dengan yang dikatakan Vincent Van Gogh “Great things are not something accidental, but must certainly be willed,” (Kesuksesan besar tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasrat yang benar-benar diingini).
Penulis bersyukur dengan keajaiban dan anugerah Allah yang selalu menyertai setiap langkah menuju perjalanan takdir ini. Pertemuan demi pertemuan dengan orang-orang sholeh membuat hati ini semakin yakin, bahwa yang mampu mengangkat The Secret (rahasia) dalam hidup ini bukan hanya Rhonda Byrne, tapi siapapun kita, akan mampu membuka tabir rahasia hidup dan keajaiban Allah SWT. Semoga rahasia dan keajaiban Allah yang telah penulis temukan dan Anda rasakan, akan menjadi inspirasi jitu untuk kehidupan kita, ummat dan bangsa ini menuju takdir yang lebih baik dan penuh makna. Bisa!!!
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah (ilmu dan hikmah). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Luqman (31): 27)
“Hidup ini adalah sebuah spektrum perjalanan yang panjang. Hidup di dunia ini diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Terminal akhir dari kehidupan adalah untuk bertemu dengan Tuhan di syurga-Nya”.
Jangan Takut dan Jangan Bersedih!
Semua manusia sangat layak dan berhak mendapat apa yang mereka inginkan. Namun kita harus ingat bahwa dalam mewujudkan apapun yang kita inginkan, sesungguhnya dibutuhkan keyakinan, pengorbanan, kesungguhan dan ketekunan. Pada prosesnya kita akan menemukan kenyataan yang tidak mulus, bahkan mungkin akan terasa pahit, membosankan dan melelahkan. Namun apapun tantangan dan problematikanya, maka nikmatilah hidup ini dengan tenang dan senang. Karena Allah tidak akan pernah memberikan beban apapun kepada kita, melebihi kapasitas kemampuan kita. Segera bangkit dan bergerak untuk beramal yang terbaik untuk kehidupan dan masa depan kita.
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”
(QS. Al-Baqarah (2): 286).
Berbisnis dengan Tuhan insya Allah akan menjadikan pribadi yang selalu yakin dan optimis dalam menjemput sukses dunia akhirat. Kekuatannya akan senantiasa setia menemani kita, sampai tiba di terminal keinginan yang kita dambakan. Enjoy the Beauty of Trading With Allah in Your Life! Salam Dahsyat!
Baca lebih lengkapnya dalam buku ”Indahnya Berbisnis dengan Tuhan”, seri satu (Life Management Series 1) karya Ust. Ayi Muzayini E.K, dengan pengantar DR. Hidayat Nur Wahid,MA. Penerbit Fatihah Publishing, Buku ini akan menemani Anda menuju apa yang Anda inginkan. Diangkat dari kisah nyata yang sangat istimewa dan penuh haru. Terdiri dari 10 bagian kisah yang unik dan penuh inspiratif. Tebal 296 halaman dengan harga konsumen Rp.58.000 (sudah termasuk ongkos kirim). Harga distributor Rp.30.000,- (minimal pengambilan 60 buku). Segera pesan, persediaan terbatas.
Pemesanan, masukan dan tanggapan dapat dikirim ke Jl.Pesantren No 55A 03/05 Kreo Selatan Larangan Tangerang 15156. HP 0813.8244.2222 Telp. (021)-68.99.23.24 – 7388.41.52 Fax (021)-585.45.01 Email : ayi.okey@gmail.com www.ayi-ibet.blogspot.com
Sabtu, 06 Desember 2008
Dan masjid pun kembali sepi
Betapa kita baru menyadari ada sesuatu yang sangat berharga setelah segalanya berlalu meninggalkan kita. Hingga kita merasa kehilangan bahkan menyesali karena kesempatan itu tak kita manfaatkan secara maksimal saat masih di depan mata dan dirasakan kehadirannya. Giatnya kita beribadah dan berlomba menabung amal shalih saat Ramadhan menjadi bukti bahwa Ramadhan adalah magnet yang bisa menyatukan kita. Bersama dan bersatu dalam nikmatnya Ramadhan yang terasa di mana-mana. Masjid berjubel dipenuhi jamaah yang ingin meraih pahala shalat tarawih bersama, atau menikmati ayat demi ayat dari al-Quran yang dibacanya di masjid di sepanjang waktu. Hampir setiap hari, terutama di awal-awal Ramadhan. Alhamdulillah.
Di luar masjid pun Ramadhan kental terasa suasananya. Malam pertama Ramadhan, saya dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta menggunakan kereta api. Suasana Ramadhan pun hadir di sana. Para kru kereta api berubah penampilan. Prianya berkopiah, kemeja dan jas rapi jali. Wanitanya, mengenakan kerudung. Pakaian dan aksesoris yang dikenannya itu sekaligus mewakili lisan dan tulisan untuk menyampaikan pesan klepada khalayak bahwa inilah Ramadhan, kami berubah penampilan untuk menghormatinya. Tentu, pemandangan yang tak akan dijumpai di luar Ramadhan. Sebab, beberapa hari sebelum Ramadhan, saya berangkat ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta, sementara penampilan kru service-nya tak seperti ditulis di awal paragraf ini. Berbeda.
Kini, Ramadhan sudah meninggalkan kita. Kegembiraan menyambut Idul Fitri di gerbang Syawal, sejenak melupakan padat-padatnya beribadah saat Ramadhan. Nikmatnya Ramadhan, tergantikan dengan bahagianya menyambut hari kemenangan. Sehingga, ada di antara kita yang kemudian lupa, bahwa sebenarnya ia tengah meninggalkan bulan yang nikmatnya sepanjang hari sepanjang malam, yang berkah, rahmat dan ampunan dari Allah Swt. bertaburan sebulan penuh.
Kini, kita kehilangan semua suasana indah Ramadhan, saat di mana banyak orang mengejar amal shalih dan beribadah dengan sangat tamaknya. Seolah merasa wajib meninggalkan nikmatnya dunia dan fokus dengan ibadah untuk mendekatkan diri kepadaNya. Tak ada lagi suara berisik belasan ABG yang kadang dengan nakalnya membangunkan seisi pemukiman penduduk pada dini hari dengan suara-suara teriakan dan tetabuhan dari benda-benda seadanya. Masjid pun begitu makmur dengan padatnya kegiatan ibadah baik di siang hari maupun malamnya. Tarawih berjamaah, tadarus al-Quran, i’tikaf, dan kegiatan menemani warga yang sedang sahur dengan lantunan ayat suci al-Quran atau puji-pujian kepada Allah Ta’ala. Indah, nikmat, sejuk, serta damai.
Dan, sekarang tinggal kenangan saja. Kita kembali kepada rutinitas awal, sibuk dengan pekerjaan kita, urusan kehidupan kita, dan kita kembali meninggalkan masjid. Hingga masjid pun kembali sepi.
Salam,
O. Solihin
[www.osolihin.wordpress.com]
Mahasiswa Kok Tawuran? Malu Deeeh!
| gaulislam edisi 056/tahun ke-2 (19 Dzulqa’idah 1429 H/17 Nopember 2008) |
| Jadi mahasiswa? Wuih, kayaknya impian banyak anak muda di negeri ini. Kalo ditanya mau kuliah? So pasti jawabnya pengeeeen! Siapa yang nggak mau kuliah? Siapa yang nggak mau jadi mahasiswa. Soalnya jadi mahasiswa itu cap intelek, pinter, cerdas, en keren. Apalagi liat aksi reformasi tahun ‘98 lalu, penggeraknya kan mahasiswa (bukan aki-aki atau kaum waria!). Pokoke, mahasiswa itu dianggap makhluk yang istimewa en pahlawan, khususnya di Indonesia. Tapi sori aja, sekarang-sekarang mahasiswa itu lagi jadi buah bibir (tapi bukan sariawan, lho!) . Bahan omongan yang jelek di masyarakat. Itu karena mereka lagi ngaktifin ‘ekskul’ alternatif; tawuran! Bulan lalu aja ada tawuran yang melibatkan dua kampus swasta di Jakarta, UKI vs YAI. Keduanya udah sohor musuh bebuyutan, jadi rutin tawuran (rutin? Kayak jadwal ngaji aja deh ah!). Yang serem ketika polisi ngegeledah salah satu kampus pelaku tawuran, ditemukan bom molotov dan narkoba. Waduh buat praktik mata kuliah apa, ya? Untung aja nggak jadi gank Kapak Merah. Di awal bulan ini, tawuran terjadi di Makassar. Seorang korban terkapar kritis nasibnya akibat tawuran. Sama seperti di Jakarta, di Makassar juga ada beberapa kampus yang udah lama ngembangin ekskul tawuran. Tawuran itu terjadi bukan hanya ngelawan anak-anak yang beda kampus. Tapi dengan yang sekampus juga jadi. Ibarat main bola, dalam tawuran juga berlaku partai derby – ngelawan klub satu kota—nah, yang ini berantem sama mahasiswa satu kampus. Gilee man! Mahasiswa juga nggak cuma melayani tawuran antarmahasiswa. Anak-anak UKI Di Jakarta, juga pernah tawuran ngelawan anak-anak SMA. Pokoke, selama urusannya tawuran, siapa aja juga dilayani. Ikan bawal dalam kuali, ente jual ane beli. Tawuran ini kayak di SMA; diwariskan dari angkatan ke angkatan. Kakak kelas mereka di kampus, bukannya ngewarisin harta benda apalagi deposito, justru mewariskan permusuhan. Para junior mereka dikader untuk jadi milisi tawuran. Mereka juga bikin cap musuh bebuyutan. Baik itu yang beda kampus atau yang partai derby, satu lokasi tapi beda fakultas atau jurusan. Mahasiswa yang nggak mau ikut tawuran dicap nggak solider atau bencong. Aih, aih jijay bajay deh eike. Selain itu mereka juga bakal dapat sanksi sosial; dikucilin dari pergaulan. Kalo udah begitu, tawuran bisa meledak kapan aja. Dan apa aja bisa jadi pemicu tawuran. Kalo nggak ada masalah ya dicari-cari masalah. Jadi lebih baik nyari masalah daripada nyari kerjaan. Karena emang kerjaannya ya tawuran. Kalo begitu, tawuran ini kayak penyakit bawaan. Bisa jadi udah dibawa sejak jaman SMA atau malah SMP. Aktivisnya emang udah biasa ‘turun’ ke jalan. Tawuran sejak jaman sekolah dulu. Mungkin mereka hepi banget, ternyata di kampus juga tetep bisa nyalurin ‘bakat’ bejatnya dulu. Sobat remaja, jelas apa yang kakak-kakak mahasiswa lakukan itu bukan teladan yang baik. Memalukan bangetz. Manusia itu kan kudunya makin dewasa ya makin bijak. Bukannya makin brutal. Apalagi ini statusnya mahasiswa. Jelas ilmunya sih kudunya makin tinggi. Harusnya seperti ilmu padi, makin berisi makin cepet dibikin nasi, eh makin merunduk. Yang namanya tawuran pastinya destruktif. Sering yang jadi korban adalah mahluk tak bersalah, misalnya kampus. Termasuk kampus mereka sendiri. Beberapa kali kejadian tawuran kampus juga ikutan diancurin. Lho kalo kampusnya rusak kuliah di mana dong? Di lapangan? Nanti saingan dong ama ‘Universitas Terbuka’. Tapi namanya juga tawuran, pelakunya udah gelap mata. Mau kampusnya ancur, mau kena DO, nggak jadi soal. Yang penting nafsu haus darah terlampiaskan. Apalagi kalo pelakunya pake narkoba, udah deh dijamin makin beringas kayak Van Damme lagi gelut ngelawan musuh-musuhnya. Tawuran mahasiswa bisa jadi satu gambaran bahwa masyarakat kita ini lagi sakit. Tawuran juga dilakukan masyarakat. Ada yang antar kampung, atau antar pendukung saat pilkada. Di Maluku Utara, misalnya, sampai hari ini bentrokan antarpendukung kepala daerah masih terjadi. Sejumlah kerusuhan juga terjadi mewarnai beberapa pilkada lainnya. Berarti yang kudu diobati bukan cuma mahasiswanya, tapi juga masyarakatnya. Yup, jujur aja, masyarakat Indonesia semakin nggak ramah. Orang gampang ngambek. Juga berani main pukul. Tingkat kriminalitas di tanah air semakin tinggi. Apalagi kekerasan, di mana-mana terjadi. Selain tawuran, yang kini lagi ‘ngetop’ adalah mutilasi. Udah gitu para politisinya juga banyak yang korup. Mau jadi caleg aja pada malsuin ijazah. Gimana kalo udah jadi pejabat atau anggota legislatif? So, bangsa ini kudu bercermin kalo udah rusak luar dalem. Yang tua dan yang muda babak belur adu jotos. Lebih parah lagi ada aja sekolah yang mau nampung siswa sebanyak-banyaknya, tapi nggak ngasih kurikulum dan pendidikan yang bener. Yang penting bayaran sekolahnya lancar. Seringkali sekolah kayak gitu diisi oleh anak-anak yang bermasalah. Bukannya dibetulin oleh sekolah, justru ditampung dan jadi kelompok tawuran yang besar. Dunia pendidikan kudunya ngebentuk kepribadian Islam. Idealnya pendidikan agama sebanyak mata pelajaran sains dan teknologi. Nggak kayak sekarang, di mana pelajaran agama hanya 2 sks. Belum lagi kalo gurunya nggak masuk atau cuma ngasih fotokopian. Ditambah lagi materi pelajarannya seringkali nggak up to date, alias nyetel dengan perkembangan jaman. Bete banget tuh! Jangankan berharap pelajar kita apal juz amma atau shalat malam, lha wong masih banyak yang belum bisa baca al-Quran aja atau belum betul shalatnya. Jadi, apa ya tujuan pendidikan di tanah air? Apalagi kalo bukan ngejar ijazah dan bisa cari duit. Selain itu, kudu ada tindakan tegas setiap kali ada tawuran. Jangan cuma sanksi akademik, tapi juga sanksi hukum. Satu-satunya hukum yang adil adalah hukum Islam. Dalam Islam pelaku tawuran bisa dijerat aneka hukuman; pembegal/nakuti-nakuti orang juga qishash atau diyat. Kalo ada darah berceceran, maka pelakunya kena qishash atau diyat. Satu jari tangan aja dihargai denda 10 ekor unta. Kalo sampai kehilangan nyawa maka 100 ekor unta kudu dibayar, atau keluarga korban menuntut hukuman mati. Kalo cuma penjara mah enteng banget. Pelaku nggak bakal kapok, dan pasti berencana bales dendam. Soalnya nggak ada hukuman yang bikin takut pelakunya. Tawuran pun bakal berulang. Dijamin banget deh. Semua solusi itu nggak bakal terjadi, selama bangsa Indonesia masih betah dengan sekulerisme-kapitalisme. Dalam sekulerisme, agama dianggap kagak penting. Dalam kapitalisme, pendidikan dianggap penting kalo menghasilkan uang, bukan kepribadian. Nggak peduli lulusannya mau jadi apa, yang penting SPP-nya lancar. Rise Islam, not war! Lama-lama, masyarakat bakal nggak percaya lagi pada mahasiswa. Hujatan dan pandangan sinis bakal datang buat mahasiswa. Khususnya yang hobi tawuran. Bener lho. Fakta udah banyak. Kini jadi mahasiswa tuh bukan lagi kebanggaan, karena banyak oknum mahasiswa yang hobinya kekerasan dan tawuran. Kalo demo aja kayaknya ngerasa bangga kalo udah ngerubuhin pagar. Apalagi pas aksi tersebut disorot kamera televisi. Duiele.. jadi kayak bintang film laga aja. Malu-maluin ah. Selain itu, apa nggak mikir kalo perbuatan kalian itu merusak citra mahasiswa? Juga apa nggak malu kalo perbuatan kalian itu bakal dicontoh oleh adik-adik yang masih duduk di SMU, SMP malah SD? Selain itu, tawuran antarmahasiswa juga rawan ditunggangi pihak-pihak tertentu. Motifnya, ya supaya negeri ini kacau, atau motif ekonomi. Seperti ditayangkan dalam sebuah acara di sebuah televisi swasta, seorang pelaku ngaku kalo ada pihak yang membayar sejumlah mahasiswa untuk mengobarkan tawuran. “Pokoknya kita kerja untuk siapa aja yang punya uang,” katanya. Astaghfirullah! Nah, para pelaku tawuran, nyadar nggak kalau kalian dijadikan boneka? Mending kalo dapet bayaran, kalo cuma ikutan tahu-tahu mendadak benjut. Gimana? Mikir, man! Katanya mahasiswa, malu deh! [iwan januar] |